Rabu, 03 April 2013

Cerita Seks antara aku dan Mbak Susi


Seperti sebagian besar teman senasib, saat menjadi mahasiswa saya menjadi anak kost dengan segala suka dan dukanya. Mengenang masa-masa sekitar lima belas tahun lalu itu saya sering tertawa geli. Misalnya, karena jatah kiriman dari kampung terlambat, padahal perut keroncongan tak bisa diajak kompromi, saya terpaksa mencuri nasi lengkap dengan lauknya milik keluarga tempat saya kost. Masih banyak lagi kisah-kisah konyol yang saya alami. Namun sebenarnya ada satu kisah yang saya simpan rapat-rapat, karena bagi saya merupakan rahasia pribadi. Kisah rahasia yang sangat menyenangkan.

Keluarga tempat kost saya memiliki anak tunggal perempuan yang sudah menikah namun tetap tinggal di rumah orang tuanya. Mbak Sus, demikian kami anak-anak kost memanggil, berumur sekitar 35 tahun. Tidak begitu cantik tetapi memiliki tubuh bagus dan bersih. Menurut ibu kost, anaknya itu pernah melahirkan tetapi kemudian bayinya meninggal dunia. Jadi tak mengherankan kalau bentuk badannya masih menggiurkan. Kami berlima anak-anak kost yang tinggal di rumah bagian samping sering iseng-iseng memperbincangkan Mbak Sus. Perempuan yang kalau di rumah tak pernah memakai bra itu menjadi sasaran ngobrol miring.

"Kamu tahu nggak, kenapa Mbak Sus sampai sekarang nggak hamil-hamil?" tanya Robin yang kuliah di teknik sipil suatu saat.
"Aku tahu. Suaminya letoi. Nggak bisa ngacung" jawab Krus, anak teknik mesin dengan tangkas.
"Apanya yang nggak bisa ngacung?" tanya saya pura-pura tidak tahu.
"Bego! Ya penisnya dong", kata Krus.
"Kok tahu kalau dia susah ngacung?" saya mengejar lagi.
"Lihat saja. Gayanya klemar-klemer kaya perempuan. Tahu nggak? Mbak Sus sering membentak-bentak suaminya?" tutur Krus.
"Kalian saja yang nggak tanggap. Dia sebenarnya kan mengundang salah satu, dua, atau tiga di antara kita, mungkin malah semua, untuk membantu", kata Robin.
"Membantu? Apa maksudmu?" tanyaku tak paham ucapannya.
Robin tertawa sebelum berkata, "Ya membantu dia agar segera hamil. Dia mengundang secara tidak langsung. Lihat saja, dia sering memamerkan payudaranya kepada kita dengan mengenakan kaus ketat. Kemudian setiap usai mandi dengan hanya melilitkan handuk di badannya lalu-lalang di depan kita"
"Ah kamu saja yang GR. Mungkin Mbak Sus nggak bermaksud begitu", sergah Heri yang sejak tadi diam.
"Nggak percaya ya? Ayo siapa yang berani masuk kamarnya saat suaminya dinas malam, aku jamin dia tak akan menolak. Pasti"

Diam-diam ucapan Robin itu mengganggu pikiranku. Benarkah apa yang dia katakan tentang Mbak Sus? Benarkah perempuan itu sengaja mengundang birahi kami agar ada yang masuk perangkapnya?

Selama setahun kost diam-diam aku memang suka menikmati pemandangan yang tanpa kusadari sering membuat penisku tegak berdiri. Terutama payudaranya yang seperti sengaja dipamerkan dengan lebih banyak berkaus sehingga putingnya yang kehitam-hitaman tampak menonjol. Selain payudaranya yang kuperkirakan berukuran 36, pinggulnya yang besar sering membuatku terangsang. Ah betapa menyenangkan dan menggairahkan kalau saja aku bisa memasukkan penisku ke selangkangannya sambil meremas-remas payudaranya.

Setelah perbincangan iseng itu aku menjadi lebih memperhatikan gerak-gerik Mbak Sus. Bahkan aku kini sengaja lebih sering mengobrol dengan dia. Kulihat perempuan itu tenang-tenang saja meski mengetahui aku sering mencuri pandang ke arah dadanya sambil menelan air liur.

Suatu waktu, ketika berjalan berpapasan, tanganku tanpa sengaja menyentuh pinggulnya.
"Wah... maaf, Mbak. Nggak sengaja..." kataku sambil tersipu malu.
"Sengaja juga nggak apa-apa kok dik", jawabnya sambil mengerlingkan matanya.
Dari situ aku mulai menyimpulkan apa yang dikatakan Robin mendekati kebenaran. Mbak Sus memang berusaha memancing, mungkin tak puas dengan kehidupan seksual bersama suaminya.

Makin lama aku bertambah berani. Beberapa kali aku sengaja menyenggol pinggulnya. Eh dia cuma tersenyum-senyum. Aksi nakal pun kutingkatkan. Bukan menyenggol lagi tetapi meremas. Sialan, reaksinya sama saja. Tak salah kalau aku mulai berangan-angan suatu saat ingin menyetubuhi dia. Peluang itu sebenarnya cukup banyak. Seminggu tiga kali suaminya dinas malam. Dia sendiri telah memberikan tanda-tanda welcome. Cuma aku masih takut. Siapa tahu dia punya kelainan, yakni suka memamerkan perangkat tubuhnya yang indah tanpa ada niat lain. Namun birahiku rasanya tak tertahankan lagi. Setiap malam yang ada dalam bayanganku adalah menyusup diam-diam ke kamarnya, menciumi dan menjilati seluruh tubuhnya, meremas payudara dan pinggulnya, kemudian melesakkan penis ke vaginanya.

Suatu hari ketika di rumah sepi. Empat temanku masuk kuliah atau punya kegiatan keluar, bapak dan ibu kostku menghadiri pesta pernikahan kerabatnya di luar kota, sedangkan suami Mbak Sus ke kantor. Aku mengobrol dengan dia di ruang tamu sambil menonton televisi. Semula perbincangan hanya soal-soal umum dan biasa. Entah mendapat dorongan dari mana kemudian aku mulai ngomong agak menyerempet-nyerempet.

"Saya sebenarnya sangat mengagumi Mbak Sus lho", kataku.
"Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku ini bintang sinetron atau model ?".
"Sungguh kok. Tahu nggak apa yang kukagumi pada Mbak?"
"Coba apa...".
"Itu...".
"Mana?".
Tanpa ragu-ragu lagi aku menyentuhkan telunjukku ke payudaranya yang seperti biasa hanya dibungkus kaus.
"Ah... kamu ini".

Reaksinya makin membuatku berani. Aku mendekat. Mencium pipinya dari belakang kursi tempat duduknya. Mbak Sus diam. Lalu ganti kucium lehernya yang putih. Dia menggelinjang kegelian, tetapi tak berusaha menolak. Wah, kesempatan nih. Kini sambil menciumi lehernya tanganku bergerilya di bagian dadanya. Dia berusaha menepis tanganku yang ngawur, tetapi aku tak mau kalah. Remasanku terus kulanjutkan.  "Dik... malu ah dilihat orang", katanya pelan. Tepisannya melemah.
"Kalau begitu kita ke kamar?"
"Kamu ini nakal yaa", ujarnya tanpa berusaha lagi menghentikan serbuan tangan dan bibirku.
"Mbak...".
"Hmm...".
"Bolehkah mm..., bolehkah kalau saya...".
"Apa hh..."
"Bolehkah saya memegang susu Mbak ?".
"Hmm...", Dia mendesah ketika kujilat telinganya.
Tanpa menunggu jawabannya tanganku langsung menelusup ke balik kausnya. Merasakan betapa empuknya daging yang membukit itu. Kuremas dua payudaranya dari belakang dengan kedua tanganku. Desahannya makin kuat. Lalu kepalanya disandarkan ke dadaku. Aduh mak, berarti dia oke. Tanganku makin bersemangat. Kini kedua putingnya ganti kupermainkan.

"Dik, tutup pintunya dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik. Tanpa disuruh dua kali secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Mbak Sus. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok bawahnya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna krem. Sambil menciumi pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas vagina dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Mbak Sus menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
"Mbak belum pernah dioral ya ?".
"Apa itu ?".
"Vagina Mbak akan kujilati".
"Lo itu kan tempat kotor ...".
"Siapa bilang ?".
"Ooo... oh.. oh ...", desis Mbak Sus keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan vaginanya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kepelorotkan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut tak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir vaginanya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Mbak Sus kian keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.
"Aahh... Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh...".
"mm film biru dan bacaan porno kan banyak mm...", jawabku.

Tiba-tiba, tok.. tok.. tok. Pintu depan ada yang mengetuk. Wah berabe nih. Aksi liarku pun terhenti mendadak.
"Sst ada tamu Mbak", bisikku.
"Cepat kau sembunyi ke dalam", kata Mbak Sus sambil membenahi pakaiannya yang agak berantakan. Aku segera masuk ke dalam kamar Mbak Sus. Untung kaca jendela depan yang lebar-lebar rayban semua, sehingga dari luar tak melihat ke dalam. Sampai di kamar berbau harum itu aku duduk di tepi ranjang. Penisku tegak mendesak celana pendekku yang kukenakan. Sialan, baru asyik ada yang mengganggu. Kudengar suara pintu dibuka. Mbak Sus bicara beberapa patah kata dengan seorang tamu bersuara laki-laki. Tidak sampai dua menit Mbak Sus menyusul masuk kamar setelah menutup pintu depan.

"Siapa Mbak ?".
"Tukang koran menagih rekening".
"Wah mengganggu saja itu orang. Baru nikmat-nikmat...".
"Sudahlah", katanya sambil mendekati aku.
Tanpa sungkan-sungkan Mbak Sus mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat penisku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersedak. Semula Mbak Sus seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya.

Lama-lama dia akhirnya dia bisa menikmati dan mulai menirukan gaya permainan ciuman yang secara tak sadar baru saja kuajarkan.
"Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa ? Pacarmu ?", tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tak merepotkan, kausnya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok bawahnya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang, dan putih mulus.

"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang dong", Mbak Sus pun melucuti kaus, celana pendek, dan terakhir celana dalamku. Penisku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah ke ranjang, berguling-guling, saling menindih.
"Mbak mau saya oral lagi?" tanyaku.
Mbak Sus hanya tersenyum. Aku menunduk ke selangkangannya mencari-cari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Mbak Sus mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Kelihatan dia menemukan pengalaman baru yang membius gairahnya. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan penisku ke mulutnya.
"Gantian dong, Mbak".
"Apa muat segede itu....".
Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan penisku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama penisku masuk rongga mulutnya. Melihat Mbak Sus agak tersiksa oleh gaya permainan baru itu, aku pun segera mencabut penisku. Pikirku, nanti lama-lama pasti bisa.

"Sorry ya Mbak".
"Ah kau ini mainnya aneh-aneh".
"Justru di situ nikmatnya, Mbak ... Selama ini Mbak sama suami main seksnya gimana ?", tanyaku sambil menciumi payudaranya.
"Ah malu. Kami main biasa saja kok".
"Langsung tusuk begitu maksudnya ...?".
"Nakal kau ini", katanya sambil tangannya mengelus-elus penisku yang masih tetap tegak berdiri.
"Suami Mbak mainnya lama nggak ?".
"Ah .". dia tersipu-sipu. Mungkin malu untuk mengungkapkan.
"Pasti Mbak tak pernah puas ya ?".
Mbak Sus tak menjawab. Dia malah menciumi bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun ganti-berganti memainkan kedua payudaranya yang kenyal atau selangkangannya yang mulai berair. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tak tahan juga. Penisku pun sudah ingin segera menggenjot vaginanya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus vaginanya, kurasakan tubuh Mbak Sus agak gemetar.
"Ohh ...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang penisku masuk vaginanya.
Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan, dan kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Mbak Sus mulai menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan penisku kutingkatkan.
"Ooo... ahh... hmm... ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.
Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.
"Enak Mbak ?", tanyaku.
"Emmhh ...".
"Puas Mbak ?".
"Ahh ...", desahnya.
"Sekarang Mbak berbalik. Menungging".
Aku mengatur badannya dan Mbak Sus menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.
"Gaya apa lagi ini ?", tanyanya.
"Ini gaya doggy. Senggama lewat belakang. Pasti Mbak belum pernah".

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang dari belakang. Mbak Sus kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan tiada tara yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
"Capek ?", tanyaku.
"Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku".
"Tapi kan nikmat Mbak", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
"Kita lanjutkan nanti malam saja ya".
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi penisku. Sekarang Mbak yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang penisku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Mbak Sus tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi ditingkah lenguhan dan jeritannya menjelang sampai puncak. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Mbak Sus kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan penisku.
"Oh Mbak... aku mau keluar nih ahh ...".
Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam vaginanya. Mbak Sus kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan vaginanya begitu hangat menjepit penisku. Lima menit lebih kami dalam posisi relaksasi seperti itu.

"Vaginamu masik nikmat Mbak", bisikku sambil mencium bibir mungilnya.
"Penismu juga nikmat, Dik".
"Nanti kita main dengan macam-macam gaya lagi ya".
"Ah Mbak memang kalah pintar dibanding kamu".
Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan.

"Mbak kalau pengin bilang aja ya".
"Kamu juga. Kalau ingin ya langsung masuk ke kamar Mbak. Tetapi sst... kalau pas aman lho".
"Mbak mau nggak main ramai-ramai ?".
"Maksudmu gimana ?".
"Ya misalnya aku mengajak salah satu teman dan kita main bertiga. Dua lawan satu. Soalnya Mbak tak cukup kalau cuma dilayani satu cowok."
"Ah kamu ini ada-ada saja. Malu ah...".
"Tapi mau mencoba kan ?".
Mbak Sus tidak menjawab. Dia malah kemudian menciumi dan menggumuli aku habis-habisan. Ya aku terangsang lagi jadinya. Ya penisku tegak lagi. Ya akhirnya aku mesti menggenjot dan menembaknya sampai dia orgasme beberapa kali. Ah Mbak Sus, Mbak Sus.

 FOTO LENGKAP KLIK

Selasa, 02 April 2013

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Suster Cantikku


saya sedang dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Saya
masih duduk di kelas 2 SMA pada saat itu. Dan dalam urusan
asmara, khususnya "bercinta" saya sama sekali belum memiliki
pengalaman berarti. Saya tidak tahu bagaimana memulai cerita
ini, karena semuanya terjadi begitu saja. Tanpa kusadari, ini
adalah awal dari semua pengalaman asmaraku sampai dengan saat
ini.

Sebut saja nama wanita itu Ira, karena jujur saja saya tidak
tahu siapa namanya. Ira adalah seorang suster rumah sakit
dimana saya dirawat. Karena terjangkit gejala pengakit
hepatitis, saya harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa
hari. Selama itu juga Ira setiap saat selalu melayani dan
merawatku dengan baik. Orang tuaku terlalu sibuk dengan usaha
pertokoan keluarga kami, sehingga selama dirumah sakit, saya
lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri, atau kalau pas
kebetulan teman-temanku datang membesukku saja.

Yang kuingat, hari itu saya sudah mulai merasa agak baikkan.
Saya mulai dapat duduk dari tempat tidur dan berdiri dari
tempat tidur sendiri. Padahal sebelumnya, jangankan untuk
berdiri, untuk membalikkan tubuh pada saat tidurpun rasanya
sangat berat dan lemah sekali. Siang itu udara terasa agak
panas, dan pengap. Sekalipun ruang kamarku ber AC, dan cukup
luas untuk diriku seorang diri. Namun, saya benar-benar merasa
pengap dan sekujur tubuhku rasanya lengket. Yah, saya memang
sudah beberapa hari tidak mandi. Maklum, dokter belum
mengijinkan aku untuk mandi sampai demamku benar-benar turun.

Akhirnya saya menekan bel yang berada disamping tempat tidurku
untuk memanggil suster. Tidak lama kemudian, suster Ira yang
kuanggap paling cantik dan paling baik dimataku itu masuk ke
kamarku.
"Ada apa Dik?" tanyanya ramah sambil tersenyum, manis sekali.
Tubuhnya yang sintal dan agak membungkuk sambil memeriksa suhu
tubuhku membuat saya dapat melihat bentuk payudaranya yang
terlihat montok dan menggiurkan.
"Eh, ini Mbak. Saya merasa tubuhku lengket semua, mungkin
karena cuaca hari ini panas banget dan sudah lama saya tidak
mandi. Jadi saya mau tanya, apakah saya sudah boleh mandi hari
ini mbak?", tanyaku sambil menjelaskan panjang lebar.
Saya memang senang berbincang dengan suster cantik yang satu
ini. Dia masih muda, paling tidak cuma lebih tua 4-5 tahun
dari usiaku saat itu. Wajahnya yang khas itupun terlihat
sangat cantik, seperti orang India kalau dilihat sekilas.
"Oh, begitu. Tapi saya tidak berani kasih jawabannya sekarang
Dik. Mbak musti tanya dulu sama pak dokter apa adik sudah
boleh dimandiin apa belum", jelasnya ramah.

Mendengar kalimatnya untuk "memandikan", saya merasa darahku
seolah berdesir keatas otak semua. Pikiran kotorku
membayangkan seandainya benar Mbak Ira mau memandikan dan
menggosok-gosok sekujur tubuhku. Tanpa sadar saya terbengong
sejenak, dan batang kontolku berdiri dibalik celana pasien
rumah sakit yang tipis itu.
"Ihh, kamu nakal deh mikirnya. Kok pake ngaceng segala sih,
pasti mikir yang ngga-ngga ya. hi hi hi".
Mbak Ira ternyata melihat reaksi yang terjadi pada penisku
yang memang harus kuakui sempat mengeras sekali tadi. Saya
cuma tersenyum menahan malu dan menutup bagian bawah tubuhku
dengan selimut.
"Ngga kok Mbak, cuma spontanitas aja. Ngga mikir macem-macem
kok", elakku sambil melihat senyumannya yang semakin manis
itu.
"Hmm, kalau memang kamu mau merasa gerah karena badan terasa
lengket mbak bisa mandiin kamu, kan itu sudah kewajiban mbak
kerja disini. Tapi mbak bener-bener ngga berani kalau pak
dokter belum mengijinkannya", lanjut Mbak Ira lagi seolah
memancing gairahku.
"Ngga apa-apa kok mbak, saya tahu mbak ngga boleh sembarangan
ambil keputusa" jawabku serius, saya tidak mau terlihat
"nakal" dihadapan suster cantik ini. Lagi pula saya belum
pengalaman dalam soal memikat wanita.

Suster Ira masih tersenyum seolah menyimpan hasrat tertentu,
kemudian dia mengambil bedak Purol yang ada diatas meja
disamping tempat tidurku.
"Dik, Mbak bedakin aja yah biar ngga gerah dan terasa
lengket", lanjutnya sambil membuka tutup bedak itu dan
melumuri telapak tangannya dengan bedak.
Saya tidak bisa menjawab, jantungku rasanya berdebar kencang.
Tahu-tahu, dia sudah membuka kancing pakaianku dan menyingkap
bajuku. Saya tidak menolak, karena dibedakin juga bisa
membantu menghilangkan rasa gerah pikirku saat itu. Mbak Ira
kemudian menyuruhku membalikkan badan, sehingga sekarang saya
dalam keadaan tengkurap diatas tempat tidur.

Tangannya mulai terasa melumuri punggungku dengan bedak,
terasa sejuk dan halus sekali. Pikiranku tidak bisa
terkontrol, sejak dirumah sakit, memang sudah lama saya tidak
membayangkan hal-hal tentang seks, ataupun melakukan onani
sebagaimana biasanya saya lakukan dirumah dalam keadaan sehat.
Kontolku benar-benar berdiri dan mengeras tertimpa oleh
tubuhku sendiri yang dalam keadaan tenglungkup. Rasanya ingin
kugesek-gesekkan kontolku di permukaan ranjang, namun tidak
mungkin kulakukan karena ada Mbak Ira saat ini. fantasiku
melayang jauh, apalagi sesekali tangannya yang mungil itu
meremas pundakku seperti sedang memijat. Terasa ada cairan
bening mengalir dari ujung kontolku karena terangsang.

Beberapa saat kemudian mbak Ira menyuruhku membalikkan badan.
Saya merasa canggung bukan main, karena takut dia kembali
melihat kontolku yang ereksi.
"Iya Mbak..", jawabku sambil berusaha menenangkan diri,
sayapun membalikkan tubuhku.
Kini kupandangi wajahnya yang berada begitu dekat denganku,
rasanya dapat kurasakan hembusan nafasnya dibalik hidung
mancungnya itu. Kucoba menekan perasaan dan pikiran kotorku
dengan memejamkan mata.
Sekarang tangannya mulai membedaki dadaku, jantungku kutahan
sekuat mungkin agar tidak berdegup terlalu kencang. Saya
benar-benar terangsang sekali, apalagi saat beberapa kali
telapak tangannya menyentuh putingku.
"Ahh, geli dan enak banget", pikirku.
"Wah, kok jadi keras ya? he he he", saya kaget mendengar
ucapannya ini.
"Ini loh, putingnya jadi keras.. kamu terangsang ya?"

Mendengar ucapannya yang begitu vulgar, saya benar-benar
terangsang. Kontolku langsung berdiri kembali bahkan lebih
keras dari sebelumnya. Tapi saya tidak berani berbuat apa-apa,
cuma berharap dia tidak melihat kearah kontolku. Saya cuma
tersenyum dan tidak bicara apa-apa. Ternyata Mbak Ira semakin
berani, dia sekarang bukan lagi membedaki tubuhku, melainkan
memainkan putingku dengan jari telunjuknya. Diputar-putar dan
sesekali dicubitnya putingku.
"Ahh, geli Mbak. Jangan digituin", kataku menahan malu.
"Kenapa? Ternyata cowok bisa terangsang juga yah kalau
putingnya dimainkan gini", lanjutnya sambil melepas jari-jari
nakalnya.
Saya benar-benar kehabisan kata-kata, dilema kurasakan. Disatu
sisi saya ingin terus di"kerjain" oleh mbak Ira, satu sisi
saya merasa malu dan takut ketahuan orang lain yang mungkin
saja tiba-tiba masuk.

"Dik Iwan sudah punya pacar?", tanya mbak Ira kepadaku.
"Belum Mbak", jawabku berdebar, karena membayangkan ke arah
mana dia akan berbicara.
"Dik Iwan, pernah main sama cewek ngga?", tanyanya lagi.
"Belum mbak" jawabku lagi.
"hi.. hi.. hi.. masa ngga pernah main sama cewek sih",
lanjutnya centil.
Aduh pikirku, betapa bodohnya saya bisa sampai terjebak
olehnya. Memangnya "main" apaan yang saya pikirkan barusan.
Pasti dia berpikir saya benar-benar "nakal" pikirku saat itu.
"Pantes deh, de Iwan dari tadi mbak perhatiin ngaceng terus,
Dik Iwan mau main-main sama Mbak ya?
Wow, nafsuku langsung bergolak. Saya cuma terbengong-bengong.
Belum sempat saya menjawab, mbak Ira sudah memulai aksinya.
Dicumbuinya dadaku, diendus dan ditiup-tiupnya putingku.
Terasa sejuk dan geli sekali, kemudian dijilatnya putingku,
dan dihisap sambil memainkan putingku didalam mulutnya dengan
lidah dan gigi-gigi kecilnya.
"Ahh, geli Mbak"m rintihku keenakan.

Kemudian dia menciumi leherku, telingaku, dan akhirnya
mulutku. Awalnya saya cuma diam saja tidak bisa apa-apa,
setelah beberapa saat saya mulai berani membalas ciumannya.
Saat lidahnya memaksa masuk dan menggelitik langit-langit
mulutku, terasa sangat geli dan enak, kubalas dengan
memelintir lidahnya dengan lidahku. Kuhisap lidahnya
dalam-dalam dan mengulum lidahnya yang basah itu. Sesekali
saya mendorong lidahku kedalam mulutnya dan terhisap oleh
mulutnya yang merah tipis itu. Tanganku mulai berani, mulai
kuraba pinggulnya yang montok itu. Namun, saat saya mencoba
menyingkap rok seragam susternya itu, dia melepaskan diri.
"Jangan di sini Dik, ntar kalau ada yang tiba-tiba masuk bisa
gawat", katanya.
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung menuntunku turun dari
tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi yang terletak
disudut kamar.

Di dalam kamar mandi, dikuncinya pintu kamar mandi. Kemudian
dia menghidupkan kran bak mandi sehingga suara deru air agak
merisik dalam ruang kecil itu. Tangannya dengan tangkas
menanggalkan semua pakaian dan celanaku sampai saya telangjang
bulat. Kemudian dia sendiripun melepas topi susternya,
digantungnya di balik pintu, dan melepas beberapa kancing
seragamnya sehingga saya sekarang dapat melihat bentuk
sempurna payudaranya yang kuning langsat dibalik Bra-nya yang
berwarna hitam. Kami pun melanjutkan cumbuan kami, kali ini
lebih panas dan bernafsu. Saya belum pernah berciuman dengan
wanita, namun mbak Ira benar-benar pintar membimbingku.
Sebentar saja sudah banyak jurus yang kepelajari darinya dalam
berciuman. Kulumat bibirnya dengan bernafsu. Kontolku yang
berdiri tegak kudekatkan kepahanya dan kugesek-gesekkan. Ahh
enak sekali. Tanganku pun makin nekat meremas dan membuka
Bra-nya. Kini dia sudah bertelanjang dada dihadapanku, kuciumi
puting susunya, kuhisap dan memainkannya dengan lidah dan
sesekali menggigitnya.
"Yes, enak.. ouh geli Wan, ah.. kamu pinter banget sih",
desahnya seolah geram sambil meremas rambutku dan
membenamkannya ke dadanya.

Kini tangannya mulai meraih kontolku, digenggamnya. Tersentak
saya dibuatnya. Genggamannya begitu erat, namun terasa hangat
dan nikmat. Saya pun melepas kulumanku di putingnya, kini
kududuk diatas closet sambil membiarkan Mbak Ira memainkan
kontolku dengan tangannya. Dia jongkok mengahadap
selangkanganku, dikocoknya kontolku pelan-pelan dengan kedua
tangannya.
"Ahh, enak banget Mbak.. asik.. ahh... ahh..", desahku menahan
agar tidak menyemburkan maniku cepat-cepat.
Kuremas payudaranya saat dia terus mengocok kontolku, sekarang
kulihat dia mulai menyelipkan tangan kirinya diselangkannya
sendiri, digosok-gosoknya tangannya ke arah memeknya sendiri.
Melihat aksinya itu saya benar-benar terangsang sekali.
Kujulurkan kakiku dan ikut memainkan memeknya dengan jempol
kakiku. Ternyata dia tidak mengelak, dia malah melepas celana
dalamnya dan berjongkok tepat diatas posisi kakiku.

Kami saling melayani, tangannya mengocok kontolku pelan sambil
melumurinya dengan ludahnya sehingga makin licin dan basah,
sementara saya sibuk menggelitik memeknya yang ditumbuhi
bulu-bulu keriting itu dengan kakiku. Terasa basah dan sedikit
becek, padahal saya cuma menggosok-gosok saja dengan jempol
kaki.
"Yes.. ah.. nakal banget kamu Wan.. em, em, eh.. enak banget",
desahnya keras.
Namun suara cipratan air bak begitu keras sehingga saya tidak
khawatir didengar orang. Saya juga membalas desahannya dengan
keras juga.
"Mbak Ira, sedotin kontol saya dong.. please.. saya kepingin
banget", pintaku karena memang sudah dari tadi saya
mengharapkan sedotan mulutnya di kontolku seperti adegan film
BF yang biasa kutonton.
"Ih.. kamu nakal yah", jawabnya sambil tersenyum.
Tapi ternyata dia tidak menolak, dia mulai menjilati kepala
kontolku yang sudah licin oleh cairan pelumas dan air ludahnya
itu. Saya cuma bisa menahan nafas, sesaat gerakan jempol
kakiku terhenti menahan kenikmatan yang sama sekali belum
pernah kurasakan sebelumnya.

Dan tiba-tiba dia memasukkan kontolku ke dalam mulutnya yang
terbuka lebar, kemudian dikatupnya mulutnya sehingga kini
kontolku terjepit dalam mulutnya, disedotnya sedikit batang
kontolku sehingga saya merasa sekujur tubuhku serasa
mengejang, kemudian ditariknya kontolku keluar.
"Ahh.. ahh..", saya mendesah keenakkan setiap kali tarikan
tangannya dan mulutnya untuk mengeluarkan kontolku dari
jepitan bibirnya yang manis itu.
Kupegang kepalanya untuk menahan gerakan tarikan kepalanya
agar jangan terlalu cepat. Namun, sedotan dan jilatannya
sesekali disekeliling kepala kontolku didalam mulutnya
benar-benar terasa geli dan nikmat sekali.
Tidak sampai diulang 10 kali, tiba-tiba saya merasa getaran di
sekujur batang kontolku. Kutahan kepalanya agar kontolku tetap
berada dsidalam mulutnya. Seolah tahu bahwa saya akan segera
"keluar", Mbak Ira menghisap semakin kencang, disedot dan
terus disedotnya kontolku. Terasa agak perih, namun sangat
enak sekali.
"AHH.. AHH.. Ahh.. ahh", teriakku mendadak tersemprot cairan
mani yang sangat kental dan banyak karena sudah lama tidak
dikeluarkan itu kedalam mulut mbak Ira.

Dia terus memnghisap dan menelan maniku seolah menikmati
cairan yang kutembakkan itu, matanya merem-melek seolah ikut
merasakan kenikmatan yang kurasakan. Kubiarkan beberapa saat
kontolku dikulum dan dijilatnya sampai bersih, sampai kontolku
melemas dan lunglai, baru dilepaskannya sedotannya. Sekarang
dia duduk di dinding kamar mandi, masih mengenakan pakaian
seragam dengan kancing dan Bra terbuka, ia duduk dan
mengangkat roknya ke atas, sehingga kini memeknya yang sudah
tidak ditutupi CD itu terlihat jelas olehku. Dia mebuka lebar
pahanya, dan digosok-gosoknya memeknya dengan jari-jari
mungilnya itu. Saya cuma terbelalak dan terus menikmati
pemandangan langka dan indah ini. Sungguh belum pernah saya
melihat seorang wanita melakukan masturbasi dihadapanku secara
langsung, apalagi wanita itu secantik dan semanis mbak Ira.
Sesaat kemudian kontolku sudah mulai berdiri lagi, kuremas dan
kukocok sendiri kontolku sambil tetap duduk di atas toilet
sambil memandang aktifitas "panas" yang dilakukan mbak Ira.
Desahannya memenuhi ruang kamar mandi, diselingi deru air bak
mandi sehingga desahan itu menggema dan terdengar begitu
menggoda.

Saat melihat saya mulai ngaceng lagi dan mulai mengocok kontol
sendiri, Mbak Ira tampak semakin terangsang juga.
Tampak tangannya mulai menyelip sedikit masuk kedalam
memeknya, dan digosoknya semakin cepat dan cepat. Tangan
satunya lagi memainkan puting susunya sendiri yang masih
mengeras dan terlihat makin mancung itu.
"Ihh, kok ngaceng lagi sih.. belum puas ya..", canda mbak Ira
sambil mendekati diriku.
Kembali digenggamnya kontolku dengan menggunakan tangan yang
tadi baru saja dipakai untuk memainkan memeknya. Cairan
memeknya di tangan itu membuat kontolku yang sedari tadi sudah
mulai kering dari air ludah mbak Ira, kini kembali basah. Saya
mencoba membungkukkan tubuhku untuk meraih memeknya dengan
jari-jari tanganku, tapi Mbak Ira menepisnya.
"Ngga usah, biar cukup mbak aja yang puasin kamu.. hehehe",
agak kecewa saya mendengar tolakannya ini.
Mungkin dia khawatir saya memasukkan jari tanganku sehingga
merusak selaput darahnya pikirku, sehingga saya cuma diam saja
dan kembali menikmati permainannya atas kontolku untuk kedua
kalinya dalam kurun waktu 10 menit terakhir ini.

Kali ini saya bertahan cukup lama, air bak pun sampai penuh
sementara kami masih asyik "bermain" di dalam sana. Dihisap,
disedot, dan sesekali dikocoknya kontolku dengan cepat,
benar-benar semua itu membuat tubuhku terasa letih dan basah
oleh peluh keringat. Mbak Ira pun tampak letih, keringat
mengalir dari keningnya, sementara mulutnya terlihat sibuk
menghisap kontolku sampai pipinya terlihat kempot. Untuk
beberapa saat kami berkonsentrasi dengan aktifitas ini. Mbak
Ira sunggu hebat pikirku, dia mengulum kontolku, namun dia
juga sambil memainkan memeknya sendiri.

Setelah beberapa saat, dia melepaskan hisapannya.
Dia merintih, "Ah.. ahh.. ahh.. Mbak mau keluar Wan, Mbak mau
keluar", teriaknya sambil mempercepat gosokan tangannya.
"Sini mbak, saya mau menjilatnya", jawabku spontan, karena
teringat adegan film BF dimana pernah kulihat prianya menjilat
memek wanita yang sedang orgasme dengan bernafsu.
Mbak Ira pun berdiri di hadapanku, dicondongkannya memeknya ke
arah mulutku.
"Nih.. cepet hisap Wan, hisap..", desahnya seolah memelas.

Langsung kuhisap memeknya dengan kuat, tanganku terus mengocok
kontolku. Aku benar-benar menikmati pengalaman indah ini.
Beberapa saat kemudian kurasakan getaran hebat dari pinggul
dan memeknya. Kepalaku dibenamkannya ke memeknya sampai
hidungku tergencet diantara bulu-bulu jembutnya. Kuhisap dan
kusedot sambil memainkan lidahku di seputar kelentitnya.
"Ahh.. ahh..", desah mbak Ira disaat terakhir berbarengan
dengan cairan hangat yang mengalir memenuhi hidung dan
mulutku, hampir muntah saya dibuatnya saking banyaknya cairan
yang keluar dan tercium bau amis itu.
Kepalaku pusing sesaat, namun rangsangan benar-benar kurasakan
bagaikan gejolak pil ekstasi saja, tak lama kemudian sayapun
orgasme untuk kedua kalinya. Kali ini tidak sebanyak yang
pertama cairan yang keluar, namun benar-benar seperti
membawaku terbang ke langit ke tujuh.

Kami berdua mendesah panjang, dan saling berpelukkan. Dia
duduk diatas pangkuanku, cairan memeknya membasahi kontolku
yang sudah lemas. Kami sempat berciuman beberapa saat dan
meninggalkan beberapa pesan untuk saling merahasiakan kejadian
ini dan membuat janji dilain waktu sebelum akhirnya kami
keluar dari kamar mandi. Dan semuanya masih dalam keadaan
aman-aman saja.

Mbak Ira, adalah wanita pertama yang mengajariku permainan
seks. Sejak itu saya sempat menjalin hubungan gelap dengan
Mbak Ira selama hampir 2 tahun, selama SMA saya dan dia sering
berjanji bertemu, entah di motel ataupun di tempat kostnya
yang sepi. Keperjakaanku tidak hanya kuberikan kepadanya, tapi
sebaliknya keperawanannya pun akhirnya kurenggut setelah
beberapa kali kami melakukan sekedar esek-esek.

Kini saya sudah kuliah di luar kota, sementara Mbak Ira masih
kerja di Rumah sakit itu. Saya jarang menanyakan kabarnya,
lagi pula hubunganku dengannya tidak lain hanya sekedar saling
memuaskan kebutuhan seks. Konon, katanya dia sering merasa
"horny" menjadi perawat. Begitu pula pengakuan teman-temannya
sesama suster. Saya bahkan sempat beberapa kali bercinta
dengan teman-teman Mbak Ira. Pengalaman masuk rumah sakit,
benar-benar membawa pengalaman indah bagi hidupku, paling
tidak masa mudaku benar-benar nikmat. Mbak Ira, benar-benar
fantastis menurutku...

 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita Panas - Malam Ultah Dewi


Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, " aihh, malu ah ". Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya 'Terlanjur
Sayang'. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata " Happy Birthday Sweetheart". Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,"thanks honey" dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya " di coba donk sayang".

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai,kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, "ahhh" ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik " malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess".

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku " aku sayang
kamu Roy". Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
" aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu." "Ohh apa itu Roy ?". "
ssstttt" kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, " aku akan menutup matamu sayang " " ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala " protes Dewi. " Tenang
honey, just trust me, OK " kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan hingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, " eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm ". Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. " Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk " . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung
lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun " cepat Roy, ayo masukin
donkkk please". Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan " ahhhh" kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. " Happy Birthday Honey ".

--------------------------------------------------------------------------------

Hari ini hari Sabtu di bulan Juli. Hari jadinya Dewi. Dewi dan
aku telah menjadi pasangan sejak 8 bulan. Dewi itu anaknya
PD,ceria dan spontan blak-blakan, meskipun kadang dia bisa
judes sekali tetapi dia jujur terhadap lawan bicaranya, selalu
berbicara sesuai dengan keadaan hatinya. Dewi tidak memiliki
wajah cantik seperti bintang-bintang film layaknya, tetapi dia
memiliki senyum yang bila orang melihatnya mampu mengeluarkan
perasaan yang nyaman bagi kita-kita . Buatku dia adalah yang
terseksi. Hari ini telah kurencanakan sejak beberapa minggu
yang lalu. Aku berniat memberikan sesuatu yang spesial yang
tak dapat terlupakan begitu saja. Hari telah larut, matahari
mulai terbenam, dan aku mempersiapkan diri untuk menjemput
Dewiku. Dewi telah tahu kalau aku akan mengajaknya keluar
makan malam, tetapi dia belum tahu kemanakah kita akan pergi.

Jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat ketika aku
sampai di rumahnya. Aku memencet bel rumahnya. Tidak lama
kemudian keluarlah Dewi dengan senyumnya yg menawan, memakai
rok terusan tidak berlengan berwarna biru muda. Dia
berlari-lari kecil sambil memakai jaket jeans. Di balik
tubuhku telah kusiapkan setangkai mawar berwarna merah, dan
ketika dia berdiri di hadapanku, kuberikan padanya sambil
mengucapkan selamat dan memberikan ciuman kecil di pinggir
bibir kirinya. Sekilas dia tersipu, tetapi dari pancaran
matanya menyorotkan hatinya yg senang. Aku membukakan pintu
mobil dan mempersilakannya masuk. Setelah itu kita mulai
jalan. Sepanjang jalanan kami bercanda ria, sambil tak lupa
kusinggung penampilannya yg anggun sekali hari ini. Dan Dewi
pun tahu sekali bagaimana merespon sikapku ini terhadapnya.
Dia bersikap manja sekali terhadapku, yg bisa membuat hatiku
senang, menimbulkan perasaan suka yg dalam terhadapnya.

Akhirnya setelah menyetir setengah jam, sampailah kami di
tempat tujuan. Dewi sekilas rada terkejut setelah melihat
tempat tujuan kami, karena bukan fancy restaurant ato hotel
mewah yg menyambut kami, melainkan sebuah kedai di pinggiran
jalan. Tetapi Dewi tidak menampakkan ekspresi kecewa sama
sekali karena kedai tersebut adalah kedai soto kudus, makanan
favoritnya Dewi. Kamipun jalan masuk kedalam kedai tersebut
dan mulai memesan makanan.

Kami duduk saling berhadap-hadapan, sambil tertawa-tawa kecil,
kamipun terus mengobrol lalu lalang menunggu datangnya
makanan. Selama mengobrol itu aku sekali-kali memegang
tangannya dan mengelus-elusnya sambil kucium kecil
sekali-kali, sedangkan Dewi sambil tertawa kecil berusaha
menarik-narik tangannya dan berkata, " aihh, malu ah ". Akupun
hanya tertawa saja sambil melepas tangannya dan di bawah meja
aku mulai melepaskan sepatuku tanpa sepengetahuannya dan mulai
memainkan jari-jari kakiku di betisnya yg ramping dan putih
itu. Ahh dia terkejut sedikit, tetapi cepat menanggapi
situasi, tak lama kemudian dia pun ikut memainkan kakinya ke
kakiku. Tetapi permainan kami tiba-tiba terhenti dengan
datangnya makanan yg kami pesan. Kamipun mulai menikmati
kehangatan makan untuk menutupi dinginnya malam. Aku
menyuapinya sekali-kali dan Dewipun membalasnya.

Malam itu seakan-akan milik kami berdua saja. Tak lama
kemudian aku pamit dengannya untuk keluar sebentar saja. Tak
lama kemudian aku kembali dengan seorang pengamen. Pengamen
itu tersenyum kepada Dewi dan mengucapkan selamat Ulang Tahun
dan mulai menyanyikan satu lagu yg khusus telah kuminta dari
pengamen tersebut. Lagu dari Memes yg judulnya 'Terlanjur
Sayang'. Sedangkan Dewi terlihat di pipinya merekah noda-noda
merah tersipu, sambil tersenyum. Malampun semakin bertambah
hangat untuk kita berdua. Selesai bersantap malam, kamipun
beranjak keluar. Tetapi malam belom berakhir bagi kami. Aku
menyetir lagi ke tempat tujuan berikutnya. Mobil mulai
menggelinding meninggalkan kedai tersebut ke arah kota.
Sepanjang perjalanan kami saling bercanda ria dan bermesraan.
Setiap perhentian di lampu merah kita gunakan untuk berciuman
dengan lembut. Akhirnya sampai di tujuan, di sebuah hotel di
tengah kota. Dewi tidak terlihat terkejut sama sekali, karena
kami memang sering menghabiskan waktu berduaan di hotel,
dimana kami merasa mendapatkan cukup privacy.

Setelah mendapatkan kunci, kami naik ke atas menggunakan lift.
Sesampainya di kamar dewi langsung menyerbuku dengan
menggebu-gebu, merangkul dan menciumi bibirku. tetapi aku
menahannya, karena masih ada sesuatu yg ingin kuberikan kepada
Dewi, yaitu hadiah HUTnya. Aku mengeluarkan kotak kecil
berwarna biru dan berkata " Happy Birthday Sweetheart". Dewi
membuka kotak itu dengan hati-hati, setelah melihatnya,
terlihat matanya memancarkan sinar,"thanks honey" dan
merangkulku sambil menciumi bibirku dengan menggigit-gigit
kecil. Aku berbisik padanya " di coba donk sayang".

Sambil berjalan ke arah cermin, Dewi melepaskan jaket jeansnya
dan langsung mencoba anting-anting baru pemberianku. Aku
mengamatinya dengan seksama dan mendekati perlahan-lahan dari
belakang. Aku memeluk Dewi, tanganku menampik rambut Dewi ke
arah kiri dan mulai menciumi lehernya yg jenjang. Kumainkan
bibirku di bagian kanan lehernya, dengan sekali-kali kusentuh
dengan ujung lidah dan ku hisap-isap, sementara tanganku mulai
mengusap-usap paha Dewi, menarik roknya agak keatas. Dewi
sendiri hanya mendesah-desah kecil. Jilatanku berpindah
ketelinganya di sebelah kanan dan tanganku berusaha membuka
ritsleting bajunya. Jatuhlah bajunya ke lantai, kupeluk Dewiku
yg hanya berbalut pakainan dalam dari belakang. Tiba-tiba Dewi
membalik dan memelukku erat-erat sambil menciumi bibirku
dengan ganas. Kami saling berpagutan, ku melahap bibir atas
Dewi, dan dewi melahap bibir bawahku, bergantian. Lidah kami
berputar-putar didalam mulut. Ciuman berpindah keleher
masing-masing dengan di selingi gigitan-gigitan kecil.

Tangan dewi mulai membuka kemejaku dan mengusap-usap dadaku.
Tanganku mulai menurun dari pinggang ke lekuk tubuhnya yg
berikut. Kurasakan kain tipis di pantatnya, satu jariku masuk.
Dua jari, dan tanganku berada di dalam celana dalamnya
mengelus-elus kurvanya yg halus. Kumainkan jariku di antara
belahan pantatnya. Dewi mulai menurun dan menghisap-isap
putingku, memainkan lidahnya di sekitar perutku, "ahhh" ,
tanganku berusaha mencari kaitan BHnya di punggung, sedangkan
dewi sudah berhasil menurunkan celanaku. Kami hanya tinggal
bercelana dalam. Aku mengangkat Dewi lagi dan memegangi kedua
tangannya ke atas dengan tangan kiriku sambil bersenderan di
dinding, aku memagut bibirnya lagi yg merah merekah. Tangan
kananku mengusap-usap lembut dadanya yg polos bersih. Sambil
tidak melepaskan pagutan, perlahan-lahan kami beranjak ke arah
ranjang dan membaringkan Dewiku. Aku melepaskan celananya. Ah,
pemandangan yg tak akan kulupakan. Akupun melepaskan celanaku
dan mulai menciumi Dewi lagi sambil berbisik " malam ini aku
akan memanjakanmu, my princess".

Dewi diam menatapku dan mebelai lembut rambutku " aku sayang
kamu Roy". Akupun menatapnya balik dengan lembut dan berkata,
" aku mao supaya malem ini kamu tidak membantah apa yg aku
kata, aku masih ada sesuatu untukmu." "Ohh apa itu Roy ?". "
ssstttt" kataku sembari menutup mulutnya yg mungil dengan dua
jariku. Aku berdiri dan mengambil kain hitam yg telah
kusiapkan dari rumah. Kemudian aku duduk di samping dewi
sambil berkata, " aku akan menutup matamu sayang " " ah tapi ,
apaan sih kok tutup-tutup segala " protes Dewi. " Tenang
honey, just trust me, OK " kataku sambil mengecup keningnya.
Dewipun menatapku lagi dan mengangguk setuju.

Aku menutup mata Dewi dengan kain hitam tersebut. Dengan
perlahan aku membaringkan tubuh Dewi lagi, namun berbalik
telungkup sekarang, Dewi hanya menuruti saja dengan pasrah.
Lalu aku mulai membelai rambutnya dan menciumi lehernya dari
belakang, menggigit-gigit cuping telinganya. Lidahku
menjalar-jalar di punggungnya Dewi tepat di belahannya. Aku
menyentuh punggungnya dengan lembut menggunakan jari-jari
tanganku saja, perlahan dari pundak sampe kebelakang lutut.
Lidahku bermain-main sekarang di belahan tubuh kiri Dewi, di
bawah lengannya. Naik turun. Dewi tidak bersuara sedikitpun,
hanya sekali-kali terdengar lenguhannya. Jari-jariku mulai
bermain-main di belahan pantatnya sambil sekali-kali
kuturunkan ingga pangkal paha, dimana aku merasakan sesuatu
yg hangat dan lembab. Kumainkan jariku bergantian dengan
lidahku di belahan pantatnya dan sedikit intensif di dekat
bagian anusnya.

Kemudian tanganku merayap turun lagi ke dalam pahanya bagian
dalam bergantian ku elus dengan jari dan telapak tangan,
sambil kucium dan jilat bagian belakang pahanya dan bagian
belakang lututnya. Aku memindahkan permainanku ke bawah dimana
aku mulai menghisap-isap jari-jari kakinya dengan perlahan dan
hanya menggunakan bibir, turun ke telapak kakinya yg buberikan
ujung-ujung lidahku. Kemudian aku berbalik lagi kembali ke
pantatnya dimana aku memainkan kepala penisku di bulatan
pantatnya, kemudian berpindah di belahannya, ku gesek-gesekan
dengan perlahan, tiba-tiba dengan cepat, dan perlahan lagi,
sambil ku tiduri Dewi dari atas.

Terdenger suara desahan Dewi semakin mengeraslidahku yg kubuat
melingkar-lingkar dari leher kanannya ke kiri, dimana tepat di
tengah-tengah lehernya aku melahap, " eehh, nnggg, Roy ayo
Roy, ehmmmm ". Aku membalikkan tubuh Dewi, sehingga dia
sekarang berbaring terlentang masih dengan mata tertutup.
Akupun mulai menciuminya lagi. Kugigit-gigit bibirnya yg merah
muda itu sambil menahan tangannya yg ingin memelukku. Dengan
tangan kiriku menahan kedua tangan Dewi di atas kepalanya, aku
melanjutkan ciumanku di bibirnya, sambil sekali-kali aku
tarik, membuat Dewi mengangkat-angkat kepalanya seakan hendak
mengejar bibirku, tetapi tertahan oleh tanganku dan tutup
matanya.

Aku menciuminya lagi dan menariknya lagi. " Ahhh Roy, kok kamu
gitu sih, jangan bikin aku geregetan donk " . Aku melahap
lehernya yg putih sekarang, lidah-lidahku bergerak bergantian
dengan kedua bibirku dan kuhisap-hisap dalam dan kuat di
selingi dengan tarian lidahku di pangkal lehernya. Dewi hanya
bisa menggelinjang tinggi yg langsung ku sambut dengan ciuman
lagi di bibirnya. Permainan kuturunkan kebagian dadanya. Aku
mulai dengan sentuhan halus dengan ujung-ujung jariku yg
mengelilingi bulatan dadanya, menimbulkan rasa geli yg enak
sekali.

Bergantian dengan ujung jari, aku mengelus-elus dadanya dengan
ujung-ujung kuku dan meremasnya dengan tangan penuh, perlahan
sekali pergerakan tanganku melingkari dadanya yg indah itu.
Lidahku mulai bergerak-gerak mencari puting susunya yg merekah
berdiri. Aku menghisapnya bagaikan bayi yg sedang menyusui,
sekali-kali kugigit-gigit kecil di putingnya, dan memainkan
ujung-ujung lidah berputaran di sekitar putingnya. Lidahku
juga turun bermain di belahan antara dua bukit kembar
tersebut. Berganti ke arah kiri dan kanan tubuhnya. Aku
menangkat lengan Dewi lagi dan mulai memainkan ujung-ujung
lidahku lagi di pangkal lengannya berputar di ketiaknya yg
bersih tak berbulu. Tanganku naik turun di samping tubuhnya
sebelah kanan dari lengan sampai paha atas. Di perutnya aku
berhenti melingkar-lingkar dengan lidah di sekitar pusarnya,
dan memasukan ujung lidahku ke dalamnya, menyodok-nyodok dan
kuhisap-hisap lembut dengan bibirku. Sementara itu tangan
kananku mulai bermain di bibir vaginanya yg sudah merekah
basah. Aku hanya menggesek-gesekan jariku tanpa berusaha
mengenai klitorisnya. Aku mulai meregangkan paha Dewi, dan
mulai membuka bibir vaginanya.

Kuberika sentuhan kecil di klitoris dengan ujung lidahku. Dewi
melenguh lagi sambil memegang kepalaku. Jari tengahku memulai
menggesek-gesek ujung lubang vaginanya, sementara lidahku
kuputar-putar di sekitar klitoris Dewi, aku juga
menghisap-hisap klitorisnya, kutarik dalam-dalam dengan
hisapanku, sambil jariku menusuk-nusuk masuk dalam vaginanya,
berputar-putar di dalam merasakan basahnya dan hangatnya
dinding vaginanya. Jariku seakan-akan menggaruk-garuk dinding
vaginanya atas bawah sambil aku tetap menghisap-hisap
klitorisnya, sememntara jempolku kumainkan di antara vagina
dan anusnya. Dewi berontak bangun " cepat Roy, ayo masukin
donkkk please". Aku menyambutnya lagi dengan bibirku, kuciumi
lagi dengan ganasnya, sambil kuselipkan pahaku diantara
selangkangannya, demikian juga dengan Dewi yg menyelipkan
salah satu pahanya ke selangkanganku.

Kamipun saling bergesekan, aku merasakan hangat dan lendir di
paha kananku. Kupeluk Dewi erat-erat. Tetapi dia memberontak
dengan kuatnya dan menarik tutup matanya. Dewi mendorongku
dengan kuat ke arah kanan, dan langsung menindihku sambil
menciumiku dengan ganasnya, tangannya meraih penisku dan di
arahkan ke vaginanya, dan " ahhhh" kurasakan hangatnya
kewanitaan Dewi, terasa di sedot-sedot oleh otot-otot vagina
Dewi. Dewi sekarang berada diatasku dan mengambil kontrol. Dia
menunggangiku dengan liarnya, mempercepat tempo sambil
menciumiku dengan ganasnya. Tubuh kami berkeringatan, aku
meremas-remas dadanya Dewi, kemudian aku memeluk dewi
erat-erat berusaha setengah duduk menciumi lehernya serta
memainkan jariku di belahan pantatnya Dewi. Dewi semakin
mempercepat iramanya dan memelukku erat-erat pula. Tiba-tiba
aku merasakan sensasi yg luar biasa, sekujur tubuhku
bergetar,terasa cairan hangat membasahi penisku, memenuhi
vaginanya. Demikian pula dengan Dewi dia memelukku erat-erat.

Kamipun terdiam, terasa seperti waktu berhenti, gelap, terbuai
dalam rasa nikmat. Setelah beberapa detik berlalu, kembalilah
kami ke kesadaran kami, berpelukan di ranjang. aku mengecup
kening Dewi. " Happy Birthday Honey ".

 FOTO LENGKAP KLIK

Senin, 01 April 2013

Cerita Dewasa - Kisah Nyata yang tak Terlupakan


Nama saya Citra (samaran) , dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama mulai jam 9 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak Didi , sang dosen.

"Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra ?" ajak Dimas "Jauh nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi"

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

"Eeii... mau ngapain kamu ?" tanyaku sambil meronta karena Dimas mencoba mendekapku.

"Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan badan nih, saya kangen sama vagina kamu nih" katanya sambil menangkap tanganku.

"Ihh... nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di tempat parkir gila !" tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu meremasnya. "Dimas... jangan... nggak mmhhh!" dipotongnya kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai menelusup ke balik BH- ku. Nafsuku terpancing, berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku yang kemerahan. Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira setelah lima menitan kami ber-French kiss, dia melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih mulus dan celana dalam pink-ku.

"Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi nih" katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya.

Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu dari luar celana dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat. Reaksiku membuat Dimas makin bernafsu, jari-jarinya mulai menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak seperti ular di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan pelan pada pahaku, aku membuka mata dan melihatnya menundukkan badan menciumi pahaku. Jilatan itu terus merambat dan semakin jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin mendekatkan wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.

Dan... oohh... rasanya seperti tersengat waktu lidahnya menyentuh bibir vaginaku, tangan kanannya menahan celana dalamku yang disibakkan ke samping sementara tangan kirinya menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah dan menggeliat, lupa bahwa ini tempat yang kurang tepat, goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang di luar sana. Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di tengah gelombang birahi ini, tiba- tiba kami dikejutkan oleh sorotan senter beserta gedoran pada jendela di belakangku. Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang dan melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, begitu juga Dimas, dia langsung tersentak bangun dari selangkanganku. Satu dari mereka menggedor lagi dan menyuruh kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan memanggil yang lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka kamipun memilih turun membicarakan masalah ini baik-baik dengan mereka setelah buru-buru kurapikan kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus dan harus dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Kemudian yang agak gemuk dan berkumis membisikkan sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan berumur 40-an itu lalu berkata,

"Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu buat biaya tutup mulut ?"

Huh, dasar pikirku semua laki-laki sama saja pikirannya tak jauh dari selangkangan. Rupanya dalam hal ini Dimas cukup gentleman juga, walaupun dia bukan pacarku, tapi dia tetap membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan berbicara agak keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah terkepal kencang.

"Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, biar saya saja yang beresin" kataku

"Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan kalian tapi sesudahnya jangan coba ungkit-ungkit lagi masalah ini !"

Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau tidak mau menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga menginginkannya untuk menuntaskan libidoku yang tanggung tadi, lagipula bermain dengan orang-orang seperti mereka bukan pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring mereka ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung koridor kami disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet pria. Salah seorang menekan sakelar hingga lampu menyala, cukup bersih juga dibanding toilet pria di fakultas lainnya pikirku.

"Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baik-baik kita ngerjain cewek kamu !" perintah yang tinggi itu pada Dimas.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku menatapi tubuhku dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas kantong dadanya. Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan 40 itu namanya Egy , dan temannya yang berkumis itu bernama Romli . Pak Egy mengelusi pipiku sambil menyeringai mesum.

"Hehehe... cantik, mulus... wah beruntung banget kita malam ini !" katanya

"Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih ?" tanya Pak Romli sambil menyalami tanganku dan membelainya dari telapak hingga pangkalnya, otomatis bulu-buluku merinding dan darahku berdesir dielus seperti itu.

"Citra" jawabku dengan agak bergetar.

"Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya juga indah" Pak Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka.

"Non Citra coba sun saya dong, boleh kan ?" pinta Pak Romli memajukan wajahnya

Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan satu kecupan pada wajahnya yang tidak tampan itu.

"Ahh...non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma ngecup aja sih, gini dong harusnya" Kata Pak Egy seraya menarik wajahku dan melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas menciumiku ditambah lagi tangannya sudah mulai meremas-remas payudaraku dari luar. Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling menjilat dan berpilin, bara birahi yang sempat padam kini mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya. Aku makin berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas sehingga topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana kurasakan sebuah tangan yang kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai menyingkap rokku dan merabai pahaku.

Pak Egy melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya, dadaku. Kaos ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH pink, itupun juga langsung diturunkan.

"Wow teteknya montok banget non, putih lagi" komentarnya sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya.

Pak Romli juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak Romli yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau gigitannya keras. Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam menerpa kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Pak Romli menyelipkan tangannya ke balik celana dalamku sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak Egy yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Aku merasakan vaginaku semakin basah saja karena gesekan-gesekan dari jari Pak Romli, bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan biji klitorisku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Pak Romli meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan.

"Waw...keras banget, mana diamaternya lebar lagi" kataku dalam hati "bisa mati orgasme nih saya"

Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok benda itu makin membengkak saja.

Pak Romli menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan vaginaku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku.

"Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang putih mulus ini" celoteh Pak Romli sambil meremasi bongkahan pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana dalamku, disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan.

"Pak masukin sekarang dong" pintaku yang sudah tidak sabar marasakan batang-batang besar itu menjejali vaginaku.

"Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina non, wangi sih !" kata Pak Romli yang sedang menjilati vaginaku yang terawat baik.

ak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek oleh lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu beradaptasi, dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Pak Egy sejak posisiku ditunggingkan masih betah berjongkok diantara tembok dan tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku yang tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya. Pak Romli terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bercak merah di kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang bersamaan dengan mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang terasa makin besar dan berdenyut-denyut menggesek makin cepat pada vaginaku yang sudah licin oleh cairan orgasme.

"Ooohh... oohh... di dalam yah non... sudah mau nih" bujuknya dengan terus mendesah "Ahh... iyahh... di dalam aja... ahh" jawabku terengah-engah di tengah sisa-sisa orgasme panjang barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya dengan penis menancap hingga pangkalnya pada vaginaku, tangannya meremas erat-erat pinggulku. Terasa olehku cairan hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia baru melepaskannya setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah ambruk kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai-berai. Setelah mereka melepaskan pegangannya, aku langsung bersandar pada tembok dan merosot hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang berkeringat dan menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai- berai, kedua pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih seperti susu kental manis.

"Hehehe...liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita kamu" kata Pak Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya pada Dimas yang mereka kira pacarku.

Opps...omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya karena terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak tadi dia menikmati liveshow ini di sudut ruangan sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. Kasihan juga dia pikirku cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar buaya sih, begitu pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan menyuruhku berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Egy yang sudah membuka celananya juga berdiri di sebelahku menyuruhku mengocok penisnya.

Hhmmm...nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang berlumuran cairan kewanitaanku yang bercampur dengan sperma itu, kusapukan lidahku ke seluruh permukaannya hingga bersih mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah helmnya sambil tetap mengocok milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke atas melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik lubang kencingnya dengan lidahku.

"Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini" potong Pak Egy ketika aku masih asyik memain-mainkan penis Pak Romli.


Pak Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang langsung dijejali ke mulutku. Miliknya memang tidak sebesar Pak Romli, tapi aku suka dengan bentuknya lebih berurat dan lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena tidak setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk seluruhnya ke mulut karena cukup panjang. Aku mengeluarkan segala teknik menyepongku mulai dari mengulumnya hingga mengisap kuat-kuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak menyepong, tiba- tiba Dimas mengerang, memancingku menggerakkan mata padanya yang sedang orgasme swalayan, spermanya muncrat berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat adegan-adegan panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat tubuhku hingga berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, kaki kananku diangkat sampai ke pinggangnya. Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke dalamku, maka mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi berdiri. Berulang-ulang benda itu keluar-masuk pada vaginaku, yang paling kusuka adalah saat-saat ketika hentakan tubuh kami berlawanan arah, sehingga penisnya menghujam vaginaku lebih dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah begitu wuihh... seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku hanya bisa mengekspresikannya dengan menjerit sejadi-jadinya dan mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong, kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat leher, mulut, dan telingaku, tanganya juga menjelajahi payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme kini mulai melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun kembali menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat bibirku sehingga yang keluar dari mulutku hanya erangan- erangan tertahan, air ludah belepotan di sekitar mulut kami. Di sudut lain aku melihat Pak Romli sedang beristirahat sambil merokok dan mengobrol dengan Dimas.

Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika aku orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak memberiku istirahat tapi malah makin kencang. Kakiku yang satu diangkatnya sehingga aku tidak lagi berpijak di tanah disangga kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa makin dalam saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum aku dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama hampir setengah jam bahkan dengan intensitas genjotan yang stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Sesaat kemudian dia menghentikan genjotannya, dengan penis tetap menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih digendongnya ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia sendiri duduk di atas tutup kloset.

"Huh...capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong" perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti ini aku dapat lebih mendominasi permainan dengan goyangan-goyangan mautku. Tanpa disuruh lagi aku menurunkan pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin itu dan kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku terlebih dahulu melepaskan baju dan bra-ku yang masih menggantung supaya lebih lega, soalnya badanku sudah panas dan bemandikan keringat, yang masih tersisa di tubuhku hanya rokku yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu hak di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan naik- turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Egy mengerang karena penisnya terasa diplintir. Kedua tangannya meremasi payudaraku dari belakang, mulutnya juga aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak rambutku dan mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak Romli mendekat dan langsung melumat bibirku. Dimas yang sudah tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya dia sudah mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan menggenggamkannya pada batang penisnya.

"Mmpphh... mmmhh !" desahku ditengah keroyokan ketiga orang itu. Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara terasa makin panas dan pengap.

"Ayo dong Citra... emut, sepongan kamu kan mantep banget"

Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, kupakai ujung lidah untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Ini tentu saja membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Egy dan mengocok penisnya Pak Romli, sibuk sekali aku dibuatnya.

Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut, lalu dia menepuk punggungku dan menyuruhku turun dari pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata dia ingin melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut aku memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek dan menggumam tak jelas. Seseorang menarik pinggangku dari belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak tahu siapa karena kepalaku dipegangi Pak Egy sehingga tidak bisa menengok belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangnya perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya sih sepertinya si Dimas karena yang ini ukurannya pas dan tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Ketika sedang enak-enaknya menikmati genjotan Dimas penis di mulutku mulai bergetar

"Aahhkk... saya mau keluar... non"

Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku dan creett...creett, beberapa kali semprotan menerpa menerpa langit-langit mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan, sebagian lainnya meleleh di pinggir bibirku karena banyaknya sehingga aku tak sanggup menampungnya lagi.

Aku terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan mendesah tak karuan, sesudah semprotannya berhenti aku melepaskannya dan menjilati cairan yang masih tersisa di batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih berkonsentrasi pada serangan Dimas yang semakin mengganas. Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dimas sangat pandai mengkombinasikan serangan halus dan keras, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.

Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah peluh, untung lantainya kering sehingga tidak begitu jorok untuk berbaring di sana. Vaginaku rasanya panas sekali setelah bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi. Lututku juga terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah merasa cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Dimas. Dengan langkah gontai aku menuju wastafel untuk membasuh wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk membetulkan rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang berserakan dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan tempat itu.

"Lain kali kalau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau ketangkap kan harus bagi-bagi" begitu kata Pak Egy sebagai salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.

"Citra... Citra... sori dong, kamu marah ya !" kata Dimas yang mengikutiku dari belakang dalam perjalananku menuju tempat parkir.

Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus. Setelah membuka pintu mobil barulah aku membalikkan badanku dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya berkata

"Saya nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba yang lebih gila yah, see you, good night"

Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu menyaksikan mobilku yang makin menjauh darinya.

 FOTO LENGKAP KLIK

Cerita Dewasa - Kenikmatan Janda Muda


Nama saya Firman, saya berusia 23 tahun dan saat ini saya kuliah dan bekerja. Cerita ini bermula pada saat saya jalan- jalan dengan teman- teman saya di suatu kawasan di Jakarta yang memang sudah cukup terkenal di kalangan anak muda.Saat saya sedang melintas di jalan Sudirman saya melihat seorang wanita dan saya menghentikan kendaraan saya lalu kami pun berkenalan.Wanita tersebut bernama Nia dan dia masih berumur 19 tahun dengan tinggi kurang lebih sekitar 175 dan dengan ukuran bra sekitar 36 C akhirnya saya menawarkan dia untuk mengantar pulang dan dia pun setuju, maka akhirnya kami jalan pulang tanpa ada apa- apa.Kesokan harinya pada pukul 10.00 Nia menghubungi saya via HP saya"Hallo, Firman ya?""Siapa nih?", tanya saya"Nia, masa lupa yang semalam kenalan..""Oh, iya.. lagi dimana nih.""Lagi di Blok M, kamu ada acara nggak hari ini?""Ehmm, nggak ada tuh kenapa?" , jawab saya"Bisa jemput?""Ya udah dimana?""Di McDonald Blok M aja ya jam 11.00""Ok"Singkat cerita langsung saya meluncur ke arah Blok MSesampainya disana kami ngobrol sejenak lalu kami memutuskan untuk pergi."Mau kemana nih?" tanya saya"Terserah kamu aja..""Main kerumahku sebentar yuk mau nggak?""Ok", jawabnya dengan santai."Ga takut?" , tanya saya"Takut apa?""Kalo diperkosa gimana?"Tapi dia dengan santainya menjawab, "Ga usah diperkosa juga mau kok.. he.. he.." sambil melirik kearahku dan mencubit manja pinggangku.Kemudian saya bertanya, " Bener nih?"Dia menjawab, " Siapa takut?"Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Tebet yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai saya lalu mempersilahkan Nia untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan saya menggoda dia."Bener nih nggak takut diperkosa?"Dia malah menjawab, "Mau perkosa aku sekarang?" ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba- tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, saya ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BH nya.Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya."Ahh.. esst.. terus yang..", Nia udah mulai meracau tidak jelas saat lidah saya turun ke dadanya diantara kedua bukitnya.Lidah saya terus menjalar di buah dadanya namun tidak sampai pada pentilnya.Nia mendesah-desah, "Man isep Man ayo Man gue pingin elo isep Man.."Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar pentilnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya.Akhirnya kepalaku ditarik Nia dan ditempelkannya teteknya ke mulutku."Ayo Man isep Man jangan siksa gue Man.."Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas- remas tetek sebelah kanannya."Ohh.. aah.. esst.. enak Man terus sedot yang keras Man gigit Man ohh..", racaunya.Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya.Nia pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah 'adekku' yang sudah berdiri tegak itu dan Nia terpana."Gila gede banget Man punya elo.."Dan tanpa dikomando langsung Nia memasukan kontolku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Nia menjilat- jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya."Ah.. enak Ni terus Ni" aku pun menahan nikmat yang luar biasa.Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir vaginanya Nia mendesah."Ah.. enak Man esst.. terus Man.."Akhirnya Nia menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya."Ahh.. Man aku sampai Man.." sambil mulutnya terus mengelum penisku sedotan Niapun semakin cepat dan kuat pada penisku maka aku merasakkan denyut-denyut pada penisku."Ni, gue juga mau sampai Ni ahh..""Barengan ya.."Mendengar itu Nia makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati penisku dan akhirnya.."Acchh.. ach..", crot.. crot.. crott.., 8 kali penisku menyemprotkan sperma dalam mulut Nia dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan.Akhirnya Niapun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh penisku hingga bersih."Makasih ya Man aku dah lama nggak orgasme sejak suami gue kabur..", kata Nia"Emang suami kamu kemana?""Ga tau tiba- tiba dia ngilang setelah gue ngelahirin anak gue""Lho kamu dah punya anak?""Udah umur setahun, Man"Kemudian Nia memeluk saya dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah saya, lalu saya cium bibirnya lembut dia pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Nia memgang kemaluan saya yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis 'adikku' langsung berdiri dan mengeras.Kemudian Nia menaiki tubuh saya lalu menjilati habis seluruh tubuh saya mulai dari mulut hingga ujung kaki."Ach.." desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.Kemudian Nia mengulum penisku terlihat jelas dari atas bagaimana penisku keluar masuk mulutnya yang mungil itu."Ah. sst.. enak Sayang terus sedot Sayang achh.." desahanku semakin mengeras.Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Nia diatas tubuhku lalu aku menjilati vagina Nia dan kuisep klitoris Nia."Ahh.. enak Man terus Sayang, aku Sayang kamu achh.." desah Nia meninggi.Kemudian Nia memutar tubuhnya kembali dan dia memegang 'adikku' yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang vagina setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Nia. Sehingga perlahan- lahan masuklah penis saya ke liang senggama Nia"Auw.. sst.. ohh.. geede banget sih punya kamu yang" lirih Nia."Punya kamu juga sempit banget Yang, enak.. ah.." kataku.Perlahan-lahan aku tekan terus penisku ke dalam vaginanya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Nia mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat penis saya seperti disedot- sedot.Nia berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang."Ahh.. Sayang aku keluar Yang, ahh.." racaunya.Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas penisku yang ada di dalam vaginanya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Nia dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Nia mengalami orgasme yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini."Ahh.. Sayang aku keluar lagi Sayang ahh.." Desah Nia."Kamu lama banget sih Sayang" desah Nia sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar."Ahh terus Sayang sstt enak Sayang terus.." racaunya."Iya aku juga enak Sayang terus Sayang ahh.. enak Sayang mentok banget ah.." racauku tak kalah hebatnya.Akhirnya setelah aku menggenjot Nia selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian penisku."Sayang, aku mau keluar Sayang""Mau di dalam atau diluar Sayang?" kataku."Bentar Sayang aku juga mau keluar lagi nih ahh.." desah Nia."Di dalem aja Sayang biar aku tambah puas" desah Nia lagi."Ahh.. sst.. Sayang aku keluar Sayang ahh.." racauku"Barengan Sayang aku juga sampai ah.. ahh.. oh.." desah Nia."Ahh.. Sayang aku keluar Sayang ahh.. sst.. ohh.." desahku."Aahh" menyemprotlah spermaku sebanyak 9 kali."Emmhh.." saat itu juga si Nia mengalami orgasme."Makasih ya Sayang" kata Nia sambil mencium bibirku mesra.Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar mandi dan didalam kamar mandi pun kami sempat 'main' lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing- masing tiba-tiba Nia jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Nia duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali penisnya kedalam vaginanya."Bless.. ahh.. sst.. enak Sayang ahh.." racaunya mulai menikmati permainan.Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas penisku dan aku suruh Nia menungging dengan berpegangan pada tepian bak mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas buah dadanya yang mengayun-ayun."Ah.. Man aku mau keluar Man.." desahnya."Man aah.." , terasa cairan orgasme Nia kembali membasahi penisku.Karena kondisi Nia yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan penisku dan Nia melanjutkannya dengan mengulum penisku hingga akhirnya.."Ni aku mau keluar Sayang.. ah..", Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah penisku sehingga terlihat penisku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.Dan ketika Nia menyedot penisku maka.. "Ah.. Ni.." akhirnya aku semprotkan seluruh spermaku ke mulut Nia dan aku lihat Nia menelan semua spermaku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan penisku dengan menjilati sisa-sisa seluruh sperma yang ada.Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing- masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol- ngobrol sejenak.Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Nia pulang ke kostannya di daerah Blok M dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat ini diturunkan kami masih sering melakukan hubungan intim.
TAMAT-----

 FOTO LENGKAP KLIK